√ Mengenal Lebih Dekat 5 Rumah Adat Kaltim yang Wajib Dikenal

Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya terkenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena kebudayaan yang khas. Provinsi ini memiliki bahasa daerah, adat istiadat, kuliner, suku-suku, dan rumah adat yang unik. Kalimantan Timur berbatasan langsung dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi. Luas wilayah Kaltim sekitar 127.346,92 km². Sebelum dimekarkan menjadi Kalimantan Utara, Provinsi Kalimantan Timur adalah provinsi terluas kedua setelah Papua dengan luas 194.489 km². Ibukota provinsi ini adalah Samarinda dan dikenal dengan julukan Bumi Mulawarman.

Secara historis, rumah adat Kalimantan Timur disebut rumah Lamin. Awalnya, rumah Lamin adalah rumah identitas suku Dayak Kenyak. Pada tahun 1967, pemerintah Indonesia menetapkan bahwa rumah Lamin resmi menjadi rumah adat Kalimantan Timur.

Selain rumah Lamin, terdapat juga rumah adat lain yang unik di Kalimantan Timur. Beberapa di antaranya adalah rumah adat Paser, rumah adat Betang, rumah adat Bulungan, dan rumah adat Wehea.

Rumah Lamin memiliki gaya arsitektur yang unik. Rumah ini memiliki ukuran yang luas dengan panjang mencapai 300 m x 15 m x 3 m. Salah satu ciri khasnya adalah hiasan kepala naga yang terbuat dari kayu di bagian atapnya. Rumah Lamin berbentuk rumah panggung dan dapat menampung 100 orang atau 25-30 kepala keluarga. Rumah ini banyak digunakan oleh suku Dayak Kalimantan Timur, terutama suku Benuaq. Material yang digunakan untuk membangun rumah Lamin adalah kayu ulin, yang terkenal kuat dan awet. Bangunan rumah Lamin umumnya berwarna kuning, hitam, merah, dan putih, yang masing-masing memiliki makna tertentu.

Rumah adat Paser adalah rumah tradisional suku Paser di Kalimantan Timur. Rumah ini biasanya dibangun di tepi sungai karena sungai dianggap memberikan banyak makanan. Rumah Paser memiliki bentuk panggung segi empat yang memanjang dan awalnya menggunakan rotan sebagai pengikat struktur bangunan. Rumah adat ini biasanya ditempati oleh 2-3 kepala keluarga.

Rumah Betang adalah rumah adat suku Dayak di Kalimantan Timur. Rumah ini memiliki ukuran yang sangat besar dan dapat menampung banyak keluarga. Rumah Betang bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Pembagian ruangan dalam rumah Betang harus sesuai dengan ketentuan turun-temurun.

Rumah adat Bulungan terletak di Kota Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Rumah adat ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur kolonial dengan bentuk bangunan yang simetris dan formal. Atap rumah adat ini berbentuk limas dengan tiga buah atap, yang melambangkan pernahnya terbentuk tiga istana di Bulungan. Pilar penyangga di bagian depan rumah membuat tampilan rumah Bulungan terlihat megah. Rumah adat ini juga memiliki ukiran motif bunga, tumbuhan, dan bahasa Arab yang menunjukkan pengaruh Islam pada masa itu.

Rumah adat Wehea (Eweang) adalah rumah adat suku Dayak Wehea di Kalimantan Timur. Rumah adat ini memiliki bentuk panggung yang terhubung langsung dengan jembatan. Struktur bangunan rumah ini masih menggunakan rotan dan pasak kayu. Suku Dayak Wehea tidak mengenal rumah Betang atau rumah Lamin seperti suku Dayak lainnya di Kalimantan Timur karena mereka tinggal di pedalaman hutan.

Rumah adat Lamin memiliki beberapa ciri khas. Pertama, menggunakan kayu ulin sebagai bahan konstruksi karena kayu ini kuat dan tahan lama. Kedua, terdapat ukiran kepala naga di bagian atap rumah yang melambangkan keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan. Ketiga, ruangan dalam rumah adat Lamin terbagi menjadi ruang tamu, ruang tidur, dan dapur. Keempat, terdapat ukiran-ukiran etnik indah yang memiliki makna tertentu. Kelima, warna-warna kontras seperti kuning, hitam, merah, dan putih digunakan sebagai dekorasi rumah. Keen

Tinggalkan komentar